Selasa, 05 April 2011

Untukmu, lelaki penuh pesona^_^

Gerung, Di hawa penuh rindu, 11- 07- 2010(06.00)
Diterbitkan, 6 April 2011
Untukmu, lelaki penuh pesona^_^
Assalamu’alikum. Wr. Wb
Teriring getar cinta yang kian menggelayuti hati akan kerinduanku padamu, aku mengucap syukur yang tak terhingga kepada dzat yang maha Pengasih yang kutau tak pernah pilih kasih, kepada Maha penyayang yang sayangnya kian tak berbilang, karena aku kini berada di baris panjang jalan yang kau bentangkan atas nama perjuangan, yaa semoga aku senantiasa memegang kukuh tali yang Rabb ulurkan melalui jari perkasamu.
Getar salawat untukmu yang begitu kucintai,, wahai Rasul Alloh yang tak alpha kau menyebut ummatmu bahkan ketika nafasmu semakin tersengal diantara lembutnya jibril mengambil nyawamu. Kau yang selalu mewanti- wanti kami agar tetap menjaga dan meri’ayah keimanan. Kau yang kini ada di syurga sana menanti hadirnya kami, di telaga indah itu, ya Rasul sungguh, begitu besar rasa rindu ini padamu, rindu jasad ini bersua dengan parasmu yang memukau, rindu jiwa ini bersentuh dengan lembutnya jiwamu.
Ya, rasul.. sebenarnya hari ini aku galau, galau nian aku menyaksikan ummatmu yang begitu kau perjuangkan dulu, kini seakan- akan menjadi ummat yang tak pernah punya nabi, menjadi ummat yang seolah- olah tak akan pernah merasakan sakitnya pencabutan nyawa, bagaimana tidak ya Rasul, begitu ringan lidah mereka mencerca tiap sunnah yang kau wariskan atas nama perkembangan zaman, bukankah sunnahmu tak mengenal perubahan zaman? Karena yang kutau tauladanmu akan senantiasa berlaku hari ini sampai semua jiwa harus mengurai dari jasad, dan pergi mempertanggungjawabkan tiap lakunya di dunia.
Bagaimana tidak ya Rasul, begitu merasa hebatnya mereka, sampai lupa dengan penciptaNya dan berani berlisan bahwa Al- Qur’an harus di revisi, sekali lagi dengan mengkambinghitamkan zaman. Yang kuingat semua ini telah kau kabarkan dulu dan kini semuanya terjadi, persis.
Hari ini semua ketabuan menjelma menjadi kebiasaan, kebiasaan yang dilegalkan,, zina menjadi tontonan yang membuat mereka tepuk tangan, memakan harta yang bukan miliknya menjadi sesuatu yang begitu rugi jika tak mereka kerjakan, dan itu dikerjakan oleh mereka yang seharusnya menjadi ulil ‘amri yang kami teladani.
Kaum kami berlari tanpa malu berteriak memamerkan tiap lekuk tubuhnya, di pasar, di pinggir jalan, bukankah dulu sahabiyahmu menarik kelambu- kelambu untuk menutupi tubuh mereka saat turun perintah berhijab itu??
Diantara kami, ada yang tertipu dengan para salibis, para evangelist dan rela bertukar agama demi perusak dunia yang bernama harta, ingin ku patahkan pangkal leher kemurtadan mereka ya Rasul. Dan meneriaki ketololan mereka.
Para ayah, para suami kehilangan hati dan membiarkan anak dan istri terlunta di tepi trotoar, lalu mereka pergi karena fitnah dunia yang bernama wanita,,bahkan para ibu yang seharusnya begitu mulia dengan gelar keibuanya tega membuang si kecil tak berdosa di got- got kota hanya karena lupa bahwa mereka masih punya pencipta.
Ada apa ini wahai rasul? kian jelas tanda- tanda penutup zaman malambai ke arah kami,Kian dekat persaksian para batu yang terlempar dari tangan- tangan adik- adik kecil di palestina, kian banyak para syuhada yang gugur dengan menyematkan rindu bertemu dengan Rabbmu dan dirimu, sedang kami hanya mampu menangis memandang iri dengan keberuntungan mereka, ada dimanakah kami diantara mereka?
mungkin kau menangis di sana wahai Rasul menyaksikan bodohnya kami, lalai kami ya rasul menyimpan tiap sunnahmu hanya dalam lemari dan tak pernah kami keluarkan maafkan kami ya rasul kami punya tangan tetapi lumpuh untuk membungkam kebiadaban mereka, kami punya lidah tetapi gagu untuk berteriak menghentikan mereka. Hanya air mata ya Rasul yang terus tertumpah menjadi saksi pengutukan kami atas mereka.
Ya, Rasul cukuplah kutumpahkan risau hari ini, karena waktu terus melaju dan aku harus bergegas menunaikan kebutuhanku akan dakwahmu, dengan agenda Syuro, kajian dan aneka warna dakwahmu di atas indahnya jalinan ukhuwah yang kau ajarkan, di atas kekokohan azzam dan gaung rindu untuk nanti bisa bertemu dengan wajah Rabb dan wajahmu di telaga indah itu.
From ukhti with love

Selasa, 29 Maret 2011

“Kami adalah dai sebelum jadi apapun”.

Suatu gambaran pribadi yang unik dengan penataan resiko terencana untuk meraih masa depan bersama Allah dan Rasul-Nya. Inilah kafilah panjang, pembawa risalah kebenaran yang tak putus sampai ke suatu terminal akhir kebahagiaan surga penuh ridha Allah swt.
Setiap muslim adalah dai. Kalau bukan dai kepada Allah, berarti ia adalah dai kepada selain Allah, tidak ada pilihan ketiganya. sebab dalam hidup ini, kalau bukan Islam berarti hawa nafsu. Dan hidup di dunia adalah jenak-jenak dari bendul waktu yang tersedia untuk memilih secara merdeka, kemudian untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul insan kelak. Bagi muslim, dakwah merupakan darah bagi tubuhnya, ia tidak bisa hidup tanpanya. Aduhai, betapa agungnya agama Islam jika diemban oleh rijal (orang mulia).
Dakwah merupakan aktivitas yang begitu dekat dengan aktivitas kaum muslimin. Begitu dekatnya sehingga hampir seluruh lapisan terlibat di dalamnya.Sayang keterlibatan tersebut tidak dibekali ”Fiqh Dakwah” sehingga kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada kebaikan yang diperbuat.
Disini menjadi jelas akan pentingnya kebutuhan terhadap fiqh dakwah, sebagaimana digambarkan para ulama, bahwa ”kebutuhan manusia akan ilmu lebih sangat daripada kebutuhan terhadap makan dan minum”. Sehinga penting bagi kaum muslimin yang telah dan hendak terjun dalam kancah dakwah untuk membekali diri dengan pemahaman yang utuh terhadap Islam dan dakwah Islam. Karena orang yang piawai dalam menyampaikan namun tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam ”sama bahayanya” dengan orang yang memiliki pemahaman yang benar akan tetapi bodoh di dalam menyampaikan, mengapa?
Pertama; ia akan menyesatkan kaum muslimin dengan kepiawaiannya (logika kosongnya). Kedua; Hal itu akan menjadi ”dalil” bagi orang-orang kafir dalam kekafirannya (keungulan bungkusannya).
Adalah fiqh dakwah merupakan sarana untuk menjembatani lahirnya pemahaman yang shahih terhadap Islam didukung kemampuan yang baik di dalam menyampaikan. Sehingga dengan aktivitas dakwah ini ummat dapat menyaksikan ”Islam” dalam diri, keluarga dan aktivitas para dai yang melakukan perbaikan ummat secara integral, mengeluarkan manusia dari pekat jahiliyah menuju cahaya Islam.
Bagi mereka yang yang berjalan diatas rel kafilah dakwah menuju cahaya dan kebahagiaan dunia dan akherat, dapat melihat prinsip-prinsip dakwah dan kaidah- kaidahnya, agar menjadi hujjah atau pegangan bagi manusia dan menjadi alasan di hadapan Allah, Ustadz Jum’ah Amin Abdul Aziz memaparkan tentang hal ini, yaitu; ”Fiqh Da’wah: Prinsip dan kaidah dasar Dakwah”, yang diambil dari usul fiqh sebagai bekal para dai tersebut adalah sebagai berikut:
1. Qudwah (teladan) sebelum dakwah
2. Menjalin keakraban sebelum pengajaran
3. Mengenalkan Islam sebelum memberi tugas
4. Bertahap dalam pembebanan tugas
5. Mempermudah, bukan mempersulit
6. Menyampaikan yang ushul (dasar) sebelum yang furu’ (cabang)
7. Memberi kabar gembira sebelum ancaman
8. Memahaman, bukan mendikte
9. Mendidik bukan menelanjangi
10. Menjadi murid seorang imam, bukan muridnya buku.
Harapan, kiranya Allah swt senantiasa mencurahkan taufiq dan petunjuk-Nya kepada para dai yang ikhlas menyeru manusia ke jalan Allah, memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat serta tempat kerja, sehingga Allah terlibat dalam urusan dan kebijakan-kebijakan yang akan ditetapkan untuk orang banyak, demi tegaknya tatanan Islam yang indah dalam kehidupan dengan bimbingan Alah dan sesuai panduan manhaj (aturan) dakwah Rasulullah saw. Wallahu ‘alam

Sumber:
dakwatuna.com – Nahnu Du’aatun Qabla Kulli Syai’in. “Kami adalah dai sebelum jadi apapun”.

Jumat, 24 Desember 2010

Lagu Jepang tentang Ibu...(Jejak Pak Danang)


My mind and Soul

ROMAJI LYRIC (MOTHER)

Hi Mother, Haikei, genki ni shitemasuka?
Saikin renraku shinakute gomen Boku wa nantoka yattemasu...

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai

Chikaku ni iru to iradatsu kuse ni Tooku ni iru to sabishiku kanji
Anata wa sonna sonzai Donna mondai mo Mi wo kezutte kaiketsu suru
Soshite Boku no shitteru dare yori mo Ichi-ban gamandzuyoku TAFU desu
Itsumo massaki ni ki ni suru Jibun janaku boku no karada de

Suiji sentaku Souji ni ikuji Amatta jikan sara ni shigoto shi
Ichi-ban hikui basho ni aru mono shika Motomenakattano Anata yo
Atarimae sugi wakaranakatta Hitori de kurashi hajimete wakatta
Anata no sugosa Taihensa Sore wo omoeba Kyou mo boku ganbareru sa

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai

"Ashita asa shichi-ji ni okoshite" to itte
Anata jikan doori ni okoshite kurete
Shikashi Rifujin na boku wa
Neboke nagara ni iu kotoba wa "Urusee!"
Konna kurikaeshi no RUUTIN Iyana kao hitotsu sezu ni
Anata Mainichi okoshite kureta
Donna mezamashi yori atatakaku seikaku datta

Sore de mo aru hi Gakkou wo ZURUyasumi "Ikitakunai" to ii
FUton kara ichido mo denu boku mae ni Kao wo ryoute de ooikakushi
Oogoe agete naita Boku mo kanashikute naita
Sono toki boku wa "Nante baka na koto wo shitan da" to jibun semeta

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Kanshashitemasu My Mother

Kodomo ni sakidattareru hodo Tsurai koto nante Kono yo ni nai no dakara
Tatta ichi-byou de mo Anata yori nagaku ikiru koto Kore dake wa mamoru
Kore dake wa...

Anata no kodomo de yokatta Anata ga boku no haha de yokatta
Itsu made mo kawaranai Zutto zutto kawaranai
Boku wa anata no ikiutsushi dakara...

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai

Zutto boku no haha de ite Zutto genki de ite
Anata ni wa mada shigoto ga aru kara Boku no oyakoukou uketoru shigoto ga...


ENGLISH TRANSLATION

Hi Mother, Dear Mother, how are you doing?
Sorry I haven’t called recently, I’m getting by okay…
*Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I want to tell my kids about this love that supported me

Even though I grow impatient when I’m near you
When you’re far away from me I grow lonely
That’s who you are to me, you can cut through any problem and solve it
And you have the most patience and toughness of anyone I know
You would always be concerned over my well-being before your own

Cooking, doing the laundry, cleaning, raising a child
You even worked during your free time
You would only require things from the lowest places
I didn’t understand even though it was so obvious
It wasn’t until I started living by myself that I understood
Whenever I think of how much you’ve accomplished
And how hard it must have been, I feel like I can try my best today


I’d say, “Wake me up at seven a.m.”
And you would wake me up right on time
But I would be unfair to you
And say the words “shut up” while I was still half-asleep
This was the daily routine
You never made one tired face
And woke me up every day
Warmer and more accurately than any alarm clock

But then one day I skipped school and said, “I don’t wanna go”
I wouldn’t leave my futon and you stood in front of me
Hid your face with both hands and cried loudly
I also felt sad and cried
At that time I blamed myself wondering, “How could I be so stupid?”

Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother

I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…

I’m glad I’m your child
I’m glad you’re my mother
And that won’t ever change
It won’t ever change for all time
Because I am the very image of you…


Be my mother forever
Be well forever
You still have one more job left to do
And that’s to accept your son’s love and respect for you…


Hi Ibu, Dear Ibu, Ibu Sedang apa?
Maaf saya tidak menelepon baru-baru ini,,

Aku senang aku anak Anda
Aku senang kau ibuku
Dan yang tidak akan pernah berubah
Itu tidak akan pernah berubah untuk semua waktu


Jadilah ibu saya selamanya
Baik selamanya
Anda masih memiliki satu pekerjaan yang tersisa
Dan itu untuk menerima cinta anak Anda dan menghormati Anda


SELAMAT HARI IBU...

SEORANG IBU laksana Lembaga Pendidikan
bila dipersiapkan dengan baik...
ia dapat membentuk pribadi yang baik, kuat dan tangguh...
Ibu laksana taman, jika dijaga kelestariannya
tak selembar daun pun yang di makan hama

IBU ADALAH GURU DARI SEGALA GURU YANG UTAMA...
yang mampu menurunkan kemuliaan dari generasi ke generasi...

Teruntuk saudara-saudara perempuanku dari Bima yang sedang menimba ilmu di negeri orang,dan semua perempuan pada umumnya,, mari perbaiki diri menjadi lebih baik,,
semoga mampu menjadi generasi yang akan melahirkan generasi terbaik masa depan...


(By : Jaringan Komunikasi (JARKOM) GAMAIS BIMA)

 



Jumat, 05 November 2010

BUKAN KESAN NUANSA MELAINKAN IMPLEMENTASI NYATA


SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedoea :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA


28 Oktober -10 Nopember
Sumpah Pemuda-Hari Pahlawan
Jikalau hari ini tanggal 29, 30, 31 Oktober, 1,2,3,4,5,6,7,8, ataupun 9 November, Kita Akan berada berada pada nuansa Sumpah Pemuda yang akan bermuara pada nilai-nilai kepahlawanan. Pun jikalau kita berpijak pada tanggalan pasca 10 Nopember sampai menjelang 28 Oktober, Allah memberikan ladang harapan nan panjang untuk kita berada pada nuansa Kepahlawan yang seyogyanya dapat meresapi relung-relung jiwa Pemuda sebagai tulang punggung bangsa.
Lantas, pertanyaannya adalah; Kapan hal ini tak hanya sekedar NUANSA?
Dalam kehidupan saat ini, bangsa kita tengah terjangkiti wabah dahsyat yang baik atau tanpa disadari perlahan meluluhlantakkan jati diri dan wibawa bangsa. Wabah Pencitraan, penyakit mendewa-dewakan bungkus tanpa isi. Betapa tidak, anak muda dicekoki pergaulan bebas, remaja putri terlatih dibiasakan untuk berpakaian ketat, celana sejengkal, baju tak sekeder you can see tapi ”can you see?”. Tempat hunian (baca kost), lesehan, tempat wisata, tongkrongan anak muda dibiarkan bebas tanpa adanya batasan yang jelas hanya seolah menyatakan menyeimbangkan dengan perkembangan menuju modernitas. Kalau toh ada larangan, itu hanya sekedar lips, sehingga hal itu sekedar NUANSA. Sekali lagi NUANSA. Nuansa untuk mengatur bukan terapan nyata. Berhati-Hatilah dengan penyakit ini, pernyakit Nuansa dalam bingkai PERAYAAN. Hari sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya diperingati oleh seluruh pemuda dari jengkal tanah Sabang sampai Merauke. Namun yang menjadi sorotan penulis saat ini, adalah transisi aktualisasi dari makna Sumpah Pemuda ataupun momentum bersejarah lainnya bangsa Indonesia.
Jikalau kita melihat kembali lembaran sejarah berpuluh-puluh tahun silam, orientasi Sumpah Pemuda adalah sebagai sebuah pijakan bersama. Pijakan ini yang nantinya akan dijadikan sebilah batu loncatan untuk menjulang ke langit peradaban dunia, mensejajarkan Bangsa Khatulistiwa dengan rakitan pulau-pulau indah mempesona di tengah percaturan dunia internasional. Jadi, Orientasinya Jelas. Lantas Untuk saat ini? Wallahu’alam Bishshowab. Patutlah kita menengok kecendrungan realita yang nyata, kemana gaya lambaian nyiur pertiwi mengarah? Apatah tegak sejajar dengan bangsa-bangsa lain atau tertunduk malu dengan segala aib keterbatasan? Mari membuka mata.
Perayaan Sumpah pemuda, Hari pahlawan, dan lain-lainnya terkesan eksplosive, ibarat nyala sebatang lilin. Perayaan dalam memanfaatkan momentum tahunan seperti menyalakan lilin. Akan tetapi perayaan yang sekedar perayaan atau hanya muwujudkan KESAN seremonial tanpa ada orientasi yang jelas diibaratkan dengan batang liling yang kian masa semakin meleleh dan kehilangan bentuk. Jadi, Menyala tapi Dekstruktif.
Mana kala membaca tulisan ini, mungkin anda sebagai orang yang mencoba bersandarkan pada realita obyektif yang menaruh untaian kalimat diatas sebagai pernyataan yang terlalu berlebihan. Terhadapnya, maka Anda sebagai pembaca yang sangat kami hormati, kami pun berterimakasih atasnya. Tidak dipungkiri memang kemajuan nageri ini dari sisi modernitas. Setiap dekade, terjadi peningkatan infrasturktur seperti jalan dan  jembatan, perangkat system yang dilahirkan semakin mengikuti zaman yang mengglobal, setiap tahunnya sarana pendidikan meningkat, sekolah sekolah biasa disulap menjadi label berstandar Internasional, jutaan mahasiswa diwisuda dan menambah daftar panjang deretan sarjana di Indonesia. Itu kemajuan. Akan tetapi apakah itu namanya kemajuan jika tingkat IPM Indonesia stagnan berada diranking bawah. Tingkat kesejahteraan dan kemakmuran bangsa berada di zona degradasi, sementara tingkat korupsi dan kriminalitas berada di jajaran puncak klasement, suatu hal yang seharusnya terbalik.
Tengok pemuda Indonesia masa kini, yang miskin semakin miskin. Miskin karakter, miskin inovasi, maskin mimpi yang akhirnya menjadi miskin paripurna. Pikiran mereka serba instant. Bagi mereka, jargon utamanya ialah “yang penting bisa menyambung hidup”. Kita ambil sampel “tukang parkir”. Sekarang bahkan untuk sekelas warung kecil saja harus dijaga tukang parkir, padahal si empunya kendaraan mungkin sedang membeli bolpoin atau fotocopy empat lembar saja, yang pada pandangannya tidak akan luput kendaraan yang dibawanya. Sungguh lucu. Bahkan lebih lucu lagi, oleh tukang parkir uang parkirnya digunakan untuk membeli rokok. Mencari uang untuk membakar uang. Siklus itu berulang setiap harinya, sehingga ia mendedikasikan diri sebagai “tukang parkir sepanjang hayat”. Remaja yang berkantong tebal sibuk merias diri dengan pakaian-pakaian terkini dan terjahiliah.  Meja belajar berubah menjadi meja rias (bagi perempuan) dan meja game (bagi laki-laki), lemari buku disulap menjadi lemari pakaian dengan aneka corak dan mode sesuai hari dan event perayaan. Malam senin menjadi malam yang meresahkan kerena akan bertemu dengan guru-guru pelajaran, sementara malam minggu menjadi malam yang membahagiakan karena akan bertemu sang idaman yang padahal lebih pantas disebut sang pengacau masa depan. Trend bersendiri diwujudkan dengan mengakses pornografi, sementara trend kebersamaan diekspresiakan dalam duduk bersama mengisi deret pengangguran sepanjang jalan atau berteriak “heroic” dalam tawuran yang tak ubahnya kalah ataupun menang bagai abu dan arang.
Sungguh ironi
Apakah hanya pemuda masa kini? Ternyata tidak para pejabat yang 10-20 tahun silam notabenenya adalah pemuda pun berulah yang sama bahkan dengan cara-cara intelektual dan sangat menyakitkan. Semasa pra pejabat mereka meneriakkan janji, memproklamirkan sebagai abdi. Tapi nyatanya ketika menjabat, bergeming dengan apa yang mereka lantangkan didepan lautan manusia yang menaruh harapan. Coba tengok pernyataan mantan mentri keuangan yang penuh masalah, Sri Mulyani pada tanggal 28 oktober 2009 (tepat saat momentum sumpah pemuda) sebagai berikut, “rata-rata gaji pejabat negara saat ini sekitar Rp43 juta.
Gaji dalam bentuk uang tunai yang diterima pejabat negara relatif rendah. Bahkan kalau fasilitas tadi dihitung dalam bentuk uang, sebetulnya secara rata-rata penghasilan pejabat negara kita masih rendah. Selain itu, gaji menteri selama delapan tahun terakhir tidak mengalami kenaikan”.
Sungguh ironi benar bangsa ini. Yang lebih menyakitkan lagi pengumuman kenaikan gaji tersebut terjadi saat usia Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II masih berbau kencur, artinya belum berkiprah sudah mematok upah.
Yang bodoh tidak tahu, yang tahu lumpuh layu.
Permasalahan utama mereka yang terjangkit penyakit ini adalah kebodohan. Kebodohan yang mereka selempangkan dengan kata-kata tidak tahu. Memang betul, langkah utama mereka dihancurkan ialah mereka dijauhkan dari pedoman asasi mereka, Al-Qur’anul Karim. Sehingga setelah mereka buta dengan apa yang mereka lakukan, aspek benar salah bersifat normatif dan kondisional sehingga pembenaran cenderung berasalah pada apa yang mengenakkan bagi mereka saja terlepas oarng lain suka ataupun tidak.
Sementara bagi sebagian mereka yang tahu diam terpaku, atau pun kalau mereka bergerak pergerakan mereka bagai orang yang lumpuh layu, desir perubahan hanya angin sepoi-sepoi bukan tornado yang menrjang segala keterbatasan. Buktinya realisasi yang selama ini dilakukan masih terbilang jalan ditempat. Kebijakan mereka masih diragukan, kredibilitas mereka dipertanyakan.
INGATLAH !
Pemuda itu cahaya dan api yang menyala, yang dapat menerangi kegelapan dengan senoktah asa dan harapan.
Pemuda itu pelopor, pembawa obor masa depan penggerak nurani tua yang gersang.
Pemuda itu Enerjik, dinamis, gelisah, selalu bergeliat, tak sabar akan waktu yg lambat
marah pada kondisi stagnan, yang tak berubah.
Karena perubahan bukti harapan; karena kemajuan tanda kedinamisan; karena kediaman adalah kematian. walau jasad bergerak, walau jantung berdegup, tapi jiwamu mati dan liang kuburmu adalah dirimu sendiri

akhirnya penulis mengajak kepada kita semua,,,

          Mari kembali pada undang-undang yang hakiki Al-Qur’an. Yang pada permulaan surat Al Baqarah Allah SWT telah menjamin lisensi kebenarannya.

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”(Q.S. Al baqarah:2).

Maka kemudian tidaklah elok jikalau kita mencari pedoman lain yang tidak ada jaminan kebenarannya, apalagi produk manusia yang notabenenya secara fitrah mereka tidak pernah luput dari dosa dan kekhilafan.

Selanjutnya, Biarkan lilin itu menyala. Tak salah lilin itu menyala, karena cahanyanya menyinari bumi pertiwi, tapi jangan biarkan  ia kehilangan bentuk. Maka kita pemuda yang berhimpun dalam satu wadah, mari siapkan bentuk terbaik bagi desain masa depan bangsa. Dan pastikan di setiap bentuk itu kita lantik pemimin yang siap menjadi sumbunya, sumbu yang ikhlas menjadi abu sejarah, tidak egois dan siap berkorban.

Mari berkarir setinggi mungkin dan jangan tempatkan diri ini sebagai sumber masalah, untuk mu wahai mahasiswa yang bersiaga dipertanian, tengoklah betapa banyak petani yang tak punya sawah, betapa penuh orang tua yang anaknya gizi buruk dan busung lapar, maka itu menjadi tanggungjawabmu. Untuk kalian wahai mahasiswa yang berkiprah di ekonomi, betapa ancaman kapitalisme merampas hak-hak rakyat jelata untuk berusaha, betapa porakporanda ekonomi Indonesia yang pajaknya terkontaminasi dengan prostitusi, hiburan malam dan korupsi, maka itulah wilayah ikhtiarmu. Untuk mu wahai mahasiswa peneliti hukum, betapa banyak undang-undang yang dibisniskan, betapa leluasanya mafia hokum menginjak-injak rasa keadilan masyarakat, betapa penguasa bertindak sebagai dewa yang antikritik, maka kami berharap padamu. Untuk kalian wahai mahasiswa yang bersiaga di bidang pendidikan, betapa pendidikan tidak berhasil membentuk karakter bangsa, orang miskin tak bersekolah, yang pandai miskin moral sehingga tak punya rasa malu untuk mencuri (baca: korupsi), manusia Indonesia dipelacurkan diluarnegeri karena tak ada yang dihargakan selain diri mereka sendiri dalam setiap meja-meja prostitusi, maka jangan menutup mata akan hal itu. Bagimu wahai mahasiswa teknik, kerusakan lingkungan yang tak terbendung, air mengalir tak tentu arahnya sebab tak ada daerah resapan memadai benganti dengan kokohnya semen dan beton penutup tanah, hilangnya mata air bersih akibat limbah limbah teknologi, maka konsentrasi kami bersandar padamu. Untuk kalian wahai mahasiswa kedokteran, betapa banyak pasien miskin diterlantarkan disepanjang teras rumah sakit, orang miskin dilarang sakit, rumah sakit dibisniskan, penyakit tumbuh dengan segala bentuk dan variasinya, maka kiprahmu kami elukan.....untuk mu seluruh mahasiswa Indonesia.....untuk mu pemuda dimanapun engkau berkiprah mari bersiaga di posisi masing-masing. Itu lebih baik dari pada tidur dalam perasaan puas atau mati dalam keputus asaan.

Kami,para muda dan mudi
bersumpah....
akan selalu belajar
di setiap waktu dan tempat

Kami,para muda dan mudi
bersumpah...
akan mencari pekerjaan
atau...
akan membuat pekerjaan

Kami,para muda dan mudi
bersumpah...
tidak akan menuntut
kepada bangsa dan negara

Kami,para muda dan mudi
berjanji...
membawa Indonesia
abadi nan jaya

 

By:_mfm_aksara