Selasa, 05 April 2011

Untukmu, lelaki penuh pesona^_^

Gerung, Di hawa penuh rindu, 11- 07- 2010(06.00)
Diterbitkan, 6 April 2011
Untukmu, lelaki penuh pesona^_^
Assalamu’alikum. Wr. Wb
Teriring getar cinta yang kian menggelayuti hati akan kerinduanku padamu, aku mengucap syukur yang tak terhingga kepada dzat yang maha Pengasih yang kutau tak pernah pilih kasih, kepada Maha penyayang yang sayangnya kian tak berbilang, karena aku kini berada di baris panjang jalan yang kau bentangkan atas nama perjuangan, yaa semoga aku senantiasa memegang kukuh tali yang Rabb ulurkan melalui jari perkasamu.
Getar salawat untukmu yang begitu kucintai,, wahai Rasul Alloh yang tak alpha kau menyebut ummatmu bahkan ketika nafasmu semakin tersengal diantara lembutnya jibril mengambil nyawamu. Kau yang selalu mewanti- wanti kami agar tetap menjaga dan meri’ayah keimanan. Kau yang kini ada di syurga sana menanti hadirnya kami, di telaga indah itu, ya Rasul sungguh, begitu besar rasa rindu ini padamu, rindu jasad ini bersua dengan parasmu yang memukau, rindu jiwa ini bersentuh dengan lembutnya jiwamu.
Ya, rasul.. sebenarnya hari ini aku galau, galau nian aku menyaksikan ummatmu yang begitu kau perjuangkan dulu, kini seakan- akan menjadi ummat yang tak pernah punya nabi, menjadi ummat yang seolah- olah tak akan pernah merasakan sakitnya pencabutan nyawa, bagaimana tidak ya Rasul, begitu ringan lidah mereka mencerca tiap sunnah yang kau wariskan atas nama perkembangan zaman, bukankah sunnahmu tak mengenal perubahan zaman? Karena yang kutau tauladanmu akan senantiasa berlaku hari ini sampai semua jiwa harus mengurai dari jasad, dan pergi mempertanggungjawabkan tiap lakunya di dunia.
Bagaimana tidak ya Rasul, begitu merasa hebatnya mereka, sampai lupa dengan penciptaNya dan berani berlisan bahwa Al- Qur’an harus di revisi, sekali lagi dengan mengkambinghitamkan zaman. Yang kuingat semua ini telah kau kabarkan dulu dan kini semuanya terjadi, persis.
Hari ini semua ketabuan menjelma menjadi kebiasaan, kebiasaan yang dilegalkan,, zina menjadi tontonan yang membuat mereka tepuk tangan, memakan harta yang bukan miliknya menjadi sesuatu yang begitu rugi jika tak mereka kerjakan, dan itu dikerjakan oleh mereka yang seharusnya menjadi ulil ‘amri yang kami teladani.
Kaum kami berlari tanpa malu berteriak memamerkan tiap lekuk tubuhnya, di pasar, di pinggir jalan, bukankah dulu sahabiyahmu menarik kelambu- kelambu untuk menutupi tubuh mereka saat turun perintah berhijab itu??
Diantara kami, ada yang tertipu dengan para salibis, para evangelist dan rela bertukar agama demi perusak dunia yang bernama harta, ingin ku patahkan pangkal leher kemurtadan mereka ya Rasul. Dan meneriaki ketololan mereka.
Para ayah, para suami kehilangan hati dan membiarkan anak dan istri terlunta di tepi trotoar, lalu mereka pergi karena fitnah dunia yang bernama wanita,,bahkan para ibu yang seharusnya begitu mulia dengan gelar keibuanya tega membuang si kecil tak berdosa di got- got kota hanya karena lupa bahwa mereka masih punya pencipta.
Ada apa ini wahai rasul? kian jelas tanda- tanda penutup zaman malambai ke arah kami,Kian dekat persaksian para batu yang terlempar dari tangan- tangan adik- adik kecil di palestina, kian banyak para syuhada yang gugur dengan menyematkan rindu bertemu dengan Rabbmu dan dirimu, sedang kami hanya mampu menangis memandang iri dengan keberuntungan mereka, ada dimanakah kami diantara mereka?
mungkin kau menangis di sana wahai Rasul menyaksikan bodohnya kami, lalai kami ya rasul menyimpan tiap sunnahmu hanya dalam lemari dan tak pernah kami keluarkan maafkan kami ya rasul kami punya tangan tetapi lumpuh untuk membungkam kebiadaban mereka, kami punya lidah tetapi gagu untuk berteriak menghentikan mereka. Hanya air mata ya Rasul yang terus tertumpah menjadi saksi pengutukan kami atas mereka.
Ya, Rasul cukuplah kutumpahkan risau hari ini, karena waktu terus melaju dan aku harus bergegas menunaikan kebutuhanku akan dakwahmu, dengan agenda Syuro, kajian dan aneka warna dakwahmu di atas indahnya jalinan ukhuwah yang kau ajarkan, di atas kekokohan azzam dan gaung rindu untuk nanti bisa bertemu dengan wajah Rabb dan wajahmu di telaga indah itu.
From ukhti with love

Selasa, 29 Maret 2011

“Kami adalah dai sebelum jadi apapun”.

Suatu gambaran pribadi yang unik dengan penataan resiko terencana untuk meraih masa depan bersama Allah dan Rasul-Nya. Inilah kafilah panjang, pembawa risalah kebenaran yang tak putus sampai ke suatu terminal akhir kebahagiaan surga penuh ridha Allah swt.
Setiap muslim adalah dai. Kalau bukan dai kepada Allah, berarti ia adalah dai kepada selain Allah, tidak ada pilihan ketiganya. sebab dalam hidup ini, kalau bukan Islam berarti hawa nafsu. Dan hidup di dunia adalah jenak-jenak dari bendul waktu yang tersedia untuk memilih secara merdeka, kemudian untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul insan kelak. Bagi muslim, dakwah merupakan darah bagi tubuhnya, ia tidak bisa hidup tanpanya. Aduhai, betapa agungnya agama Islam jika diemban oleh rijal (orang mulia).
Dakwah merupakan aktivitas yang begitu dekat dengan aktivitas kaum muslimin. Begitu dekatnya sehingga hampir seluruh lapisan terlibat di dalamnya.Sayang keterlibatan tersebut tidak dibekali ”Fiqh Dakwah” sehingga kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada kebaikan yang diperbuat.
Disini menjadi jelas akan pentingnya kebutuhan terhadap fiqh dakwah, sebagaimana digambarkan para ulama, bahwa ”kebutuhan manusia akan ilmu lebih sangat daripada kebutuhan terhadap makan dan minum”. Sehinga penting bagi kaum muslimin yang telah dan hendak terjun dalam kancah dakwah untuk membekali diri dengan pemahaman yang utuh terhadap Islam dan dakwah Islam. Karena orang yang piawai dalam menyampaikan namun tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam ”sama bahayanya” dengan orang yang memiliki pemahaman yang benar akan tetapi bodoh di dalam menyampaikan, mengapa?
Pertama; ia akan menyesatkan kaum muslimin dengan kepiawaiannya (logika kosongnya). Kedua; Hal itu akan menjadi ”dalil” bagi orang-orang kafir dalam kekafirannya (keungulan bungkusannya).
Adalah fiqh dakwah merupakan sarana untuk menjembatani lahirnya pemahaman yang shahih terhadap Islam didukung kemampuan yang baik di dalam menyampaikan. Sehingga dengan aktivitas dakwah ini ummat dapat menyaksikan ”Islam” dalam diri, keluarga dan aktivitas para dai yang melakukan perbaikan ummat secara integral, mengeluarkan manusia dari pekat jahiliyah menuju cahaya Islam.
Bagi mereka yang yang berjalan diatas rel kafilah dakwah menuju cahaya dan kebahagiaan dunia dan akherat, dapat melihat prinsip-prinsip dakwah dan kaidah- kaidahnya, agar menjadi hujjah atau pegangan bagi manusia dan menjadi alasan di hadapan Allah, Ustadz Jum’ah Amin Abdul Aziz memaparkan tentang hal ini, yaitu; ”Fiqh Da’wah: Prinsip dan kaidah dasar Dakwah”, yang diambil dari usul fiqh sebagai bekal para dai tersebut adalah sebagai berikut:
1. Qudwah (teladan) sebelum dakwah
2. Menjalin keakraban sebelum pengajaran
3. Mengenalkan Islam sebelum memberi tugas
4. Bertahap dalam pembebanan tugas
5. Mempermudah, bukan mempersulit
6. Menyampaikan yang ushul (dasar) sebelum yang furu’ (cabang)
7. Memberi kabar gembira sebelum ancaman
8. Memahaman, bukan mendikte
9. Mendidik bukan menelanjangi
10. Menjadi murid seorang imam, bukan muridnya buku.
Harapan, kiranya Allah swt senantiasa mencurahkan taufiq dan petunjuk-Nya kepada para dai yang ikhlas menyeru manusia ke jalan Allah, memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat serta tempat kerja, sehingga Allah terlibat dalam urusan dan kebijakan-kebijakan yang akan ditetapkan untuk orang banyak, demi tegaknya tatanan Islam yang indah dalam kehidupan dengan bimbingan Alah dan sesuai panduan manhaj (aturan) dakwah Rasulullah saw. Wallahu ‘alam

Sumber:
dakwatuna.com – Nahnu Du’aatun Qabla Kulli Syai’in. “Kami adalah dai sebelum jadi apapun”.