SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedoea :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedoea :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
28 Oktober -10 Nopember
Sumpah Pemuda-Hari Pahlawan
Jikalau hari ini tanggal 29, 30, 31 Oktober, 1,2,3,4,5,6,7,8, ataupun 9 November, Kita Akan berada berada pada nuansa Sumpah Pemuda yang akan bermuara pada nilai-nilai kepahlawanan. Pun jikalau kita berpijak pada tanggalan pasca 10 Nopember sampai menjelang 28 Oktober, Allah memberikan ladang harapan nan panjang untuk kita berada pada nuansa Kepahlawan yang seyogyanya dapat meresapi relung-relung jiwa Pemuda sebagai tulang punggung bangsa.
Lantas, pertanyaannya adalah; Kapan hal ini tak hanya sekedar NUANSA?
Dalam kehidupan saat ini, bangsa kita tengah terjangkiti wabah dahsyat yang baik atau tanpa disadari perlahan meluluhlantakkan jati diri dan wibawa bangsa. Wabah Pencitraan, penyakit mendewa-dewakan bungkus tanpa isi. Betapa tidak, anak muda dicekoki pergaulan bebas, remaja putri terlatih dibiasakan untuk berpakaian ketat, celana sejengkal, baju tak sekeder you can see tapi ”can you see?”. Tempat hunian (baca kost), lesehan, tempat wisata, tongkrongan anak muda dibiarkan bebas tanpa adanya batasan yang jelas hanya seolah menyatakan menyeimbangkan dengan perkembangan menuju modernitas. Kalau toh ada larangan, itu hanya sekedar lips, sehingga hal itu sekedar NUANSA. Sekali lagi NUANSA. Nuansa untuk mengatur bukan terapan nyata. Berhati-Hatilah dengan penyakit ini, pernyakit Nuansa dalam bingkai PERAYAAN. Hari sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober setiap tahunnya diperingati oleh seluruh pemuda dari jengkal tanah Sabang sampai Merauke. Namun yang menjadi sorotan penulis saat ini, adalah transisi aktualisasi dari makna Sumpah Pemuda ataupun momentum bersejarah lainnya bangsa Indonesia.
Jikalau kita melihat kembali lembaran sejarah berpuluh-puluh tahun silam, orientasi Sumpah Pemuda adalah sebagai sebuah pijakan bersama. Pijakan ini yang nantinya akan dijadikan sebilah batu loncatan untuk menjulang ke langit peradaban dunia, mensejajarkan Bangsa Khatulistiwa dengan rakitan pulau-pulau indah mempesona di tengah percaturan dunia internasional. Jadi, Orientasinya Jelas. Lantas Untuk saat ini? Wallahu’alam Bishshowab. Patutlah kita menengok kecendrungan realita yang nyata, kemana gaya lambaian nyiur pertiwi mengarah? Apatah tegak sejajar dengan bangsa-bangsa lain atau tertunduk malu dengan segala aib keterbatasan? Mari membuka mata.
Perayaan Sumpah pemuda, Hari pahlawan, dan lain-lainnya terkesan eksplosive, ibarat nyala sebatang lilin. Perayaan dalam memanfaatkan momentum tahunan seperti menyalakan lilin. Akan tetapi perayaan yang sekedar perayaan atau hanya muwujudkan KESAN seremonial tanpa ada orientasi yang jelas diibaratkan dengan batang liling yang kian masa semakin meleleh dan kehilangan bentuk. Jadi, Menyala tapi Dekstruktif.
Mana kala membaca tulisan ini, mungkin anda sebagai orang yang mencoba bersandarkan pada realita obyektif yang menaruh untaian kalimat diatas sebagai pernyataan yang terlalu berlebihan. Terhadapnya, maka Anda sebagai pembaca yang sangat kami hormati, kami pun berterimakasih atasnya. Tidak dipungkiri memang kemajuan nageri ini dari sisi modernitas. Setiap dekade, terjadi peningkatan infrasturktur seperti jalan dan jembatan, perangkat system yang dilahirkan semakin mengikuti zaman yang mengglobal, setiap tahunnya sarana pendidikan meningkat, sekolah sekolah biasa disulap menjadi label berstandar Internasional, jutaan mahasiswa diwisuda dan menambah daftar panjang deretan sarjana di Indonesia. Itu kemajuan. Akan tetapi apakah itu namanya kemajuan jika tingkat IPM Indonesia stagnan berada diranking bawah. Tingkat kesejahteraan dan kemakmuran bangsa berada di zona degradasi, sementara tingkat korupsi dan kriminalitas berada di jajaran puncak klasement, suatu hal yang seharusnya terbalik.
Tengok pemuda Indonesia masa kini, yang miskin semakin miskin. Miskin karakter, miskin inovasi, maskin mimpi yang akhirnya menjadi miskin paripurna. Pikiran mereka serba instant. Bagi mereka, jargon utamanya ialah “yang penting bisa menyambung hidup”. Kita ambil sampel “tukang parkir”. Sekarang bahkan untuk sekelas warung kecil saja harus dijaga tukang parkir, padahal si empunya kendaraan mungkin sedang membeli bolpoin atau fotocopy empat lembar saja, yang pada pandangannya tidak akan luput kendaraan yang dibawanya. Sungguh lucu. Bahkan lebih lucu lagi, oleh tukang parkir uang parkirnya digunakan untuk membeli rokok. Mencari uang untuk membakar uang. Siklus itu berulang setiap harinya, sehingga ia mendedikasikan diri sebagai “tukang parkir sepanjang hayat”. Remaja yang berkantong tebal sibuk merias diri dengan pakaian-pakaian terkini dan terjahiliah. Meja belajar berubah menjadi meja rias (bagi perempuan) dan meja game (bagi laki-laki), lemari buku disulap menjadi lemari pakaian dengan aneka corak dan mode sesuai hari dan event perayaan. Malam senin menjadi malam yang meresahkan kerena akan bertemu dengan guru-guru pelajaran, sementara malam minggu menjadi malam yang membahagiakan karena akan bertemu sang idaman yang padahal lebih pantas disebut sang pengacau masa depan. Trend bersendiri diwujudkan dengan mengakses pornografi, sementara trend kebersamaan diekspresiakan dalam duduk bersama mengisi deret pengangguran sepanjang jalan atau berteriak “heroic” dalam tawuran yang tak ubahnya kalah ataupun menang bagai abu dan arang.
Sungguh ironi
Apakah hanya pemuda masa kini? Ternyata tidak para pejabat yang 10-20 tahun silam notabenenya adalah pemuda pun berulah yang sama bahkan dengan cara-cara intelektual dan sangat menyakitkan. Semasa pra pejabat mereka meneriakkan janji, memproklamirkan sebagai abdi. Tapi nyatanya ketika menjabat, bergeming dengan apa yang mereka lantangkan didepan lautan manusia yang menaruh harapan. Coba tengok pernyataan mantan mentri keuangan yang penuh masalah, Sri Mulyani pada tanggal 28 oktober 2009 (tepat saat momentum sumpah pemuda) sebagai berikut, “rata-rata gaji pejabat negara saat ini sekitar Rp43 juta.
Gaji dalam bentuk uang tunai yang diterima pejabat negara relatif rendah. Bahkan kalau fasilitas tadi dihitung dalam bentuk uang, sebetulnya secara rata-rata penghasilan pejabat negara kita masih rendah. Selain itu, gaji menteri selama delapan tahun terakhir tidak mengalami kenaikan”. Sungguh ironi benar bangsa ini. Yang lebih menyakitkan lagi pengumuman kenaikan gaji tersebut terjadi saat usia Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II masih berbau kencur, artinya belum berkiprah sudah mematok upah.
Gaji dalam bentuk uang tunai yang diterima pejabat negara relatif rendah. Bahkan kalau fasilitas tadi dihitung dalam bentuk uang, sebetulnya secara rata-rata penghasilan pejabat negara kita masih rendah. Selain itu, gaji menteri selama delapan tahun terakhir tidak mengalami kenaikan”. Sungguh ironi benar bangsa ini. Yang lebih menyakitkan lagi pengumuman kenaikan gaji tersebut terjadi saat usia Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II masih berbau kencur, artinya belum berkiprah sudah mematok upah.
Yang bodoh tidak tahu, yang tahu lumpuh layu.
Permasalahan utama mereka yang terjangkit penyakit ini adalah kebodohan. Kebodohan yang mereka selempangkan dengan kata-kata tidak tahu. Memang betul, langkah utama mereka dihancurkan ialah mereka dijauhkan dari pedoman asasi mereka, Al-Qur’anul Karim. Sehingga setelah mereka buta dengan apa yang mereka lakukan, aspek benar salah bersifat normatif dan kondisional sehingga pembenaran cenderung berasalah pada apa yang mengenakkan bagi mereka saja terlepas oarng lain suka ataupun tidak.
Sementara bagi sebagian mereka yang tahu diam terpaku, atau pun kalau mereka bergerak pergerakan mereka bagai orang yang lumpuh layu, desir perubahan hanya angin sepoi-sepoi bukan tornado yang menrjang segala keterbatasan. Buktinya realisasi yang selama ini dilakukan masih terbilang jalan ditempat. Kebijakan mereka masih diragukan, kredibilitas mereka dipertanyakan.
INGATLAH !
Pemuda itu cahaya dan api yang menyala, yang dapat menerangi kegelapan dengan senoktah asa dan harapan.
Pemuda itu pelopor, pembawa obor masa depan penggerak nurani tua yang gersang.
Pemuda itu Enerjik, dinamis, gelisah, selalu bergeliat, tak sabar akan waktu yg lambat
marah pada kondisi stagnan, yang tak berubah.
marah pada kondisi stagnan, yang tak berubah.
Karena perubahan bukti harapan; karena kemajuan tanda kedinamisan; karena kediaman adalah kematian. walau jasad bergerak, walau jantung berdegup, tapi jiwamu mati dan liang kuburmu adalah dirimu sendiri
mengesankan sekali...
BalasHapusuntukmu pemuda bangsa!!
berdirilah tegap di ujung jalan itu,
sebentar lagi sejarah akan lewat untuk mencari aktor baru untuk drama kehidupannya,
sambutlah ia karena sesungguhnya engkaulah yang ia cari...
ganbatte kudasai!!!